Jumat, 18 Mei 2012

PROGRAM BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH MENENGAH



  1. PENDAHULUAN
Tujuan pendidikan menengah acap kali dibiaskan oleh pandangan umum demi mutu keberhasilan akademis seperti presentase lulusan, tingginya nilai ujian nasional, atau presentase kelanjutan ke perguruan tinggi.
Penyiapan peserta didik demi melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi akan menyita perhatian pada materi pelajaran, agar para lulusan dapat lolos ke jenjang selanjutnya atau ke perguruan tinggi. Akibatnya, proses pendidikan di jenjang menengah akan kehilangan bobot dalam proses pembentukan pribadi. Maka dari itu pembentukan pribadi, pendamping pribadi, pengasahan nilai-nilai kehidupan dan pemeliharaan kepribadian siswa sangat diperlukan di sekolah menengah.1

  1. RUMUSAN MASALAH
  1. Bagaimanakah bimbingan konseling di sekolah menengah?
  2. Bagaimanakah bimbingan konseling di sekolah menengah pertama?
  3. Bagaimanakah bimbingan konseling di sekolah menengah atas?
  4. Apa saja macam bimbingan konseling di sekolah menengah?

  1. PEMBAHASAN
  1. Bimbingan konseling di sekolah menengah
Bimbingan konseling yang sebenarnya paling potensial menggarap pemeliharaan pribadi-pribadi, ditempatkan dalam konteks tindakan-tindakan yang menyangkut disipliner siswa. Memanggil, memarahi, menghukum adalah proses klasik yang menjadi label BK di banyak sekolah. Dengan kata lain, BK diposisikan sebagai “musuh” bagi siswa bermasalah atau nakal. Seharusnya Bimbingan Konseling dapat menjadi pendamping dan penyeimbang bagi para siswa, lebih-lebih pada siswa yang sudah menempuh jenjang sekolah menengah.
Mendesak untuk diwujudkan, prinsip keseimbangan dalam pendampingan orang-orang muda yang masih dalam tahap pencarian diri. Orang-orang muda di sekolah menengah lazimnya dihadapkan pada celaan, cacian, cercaan, dan segala sumpah-serapah kemarahan jika membuat kekeliruan. Namun, jika melakukan hal-hal yang positif atau kebaikan, kering pujian, sanjungan atau peneguhan. Betapa kesenjangan ini membentuk pribadi-pribadi yang selalu memiliki gambaran diri negatif. Jika seluruh komponen kependidikan di sekolah bertindak sebagai yang menghakimi dan memberikan vonis serta hukuman, maka semakin lengkaplah pembentukan pribadi-pribadi yang tidak seimbang.2
Siswa sekolah menengah berbeda dengan murid sekolah dasar. Mereka berada pada tahap perkembangan remaja yang merupakan transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa. Konselor di sekolah menengah dituntut untuk memahami berbagai gejolak yang secara potensial sering muncul beserta cara-cara penanganannya.
Pendekatan dan teknik-teknik konseling dalam berbagai bentuknya dapat dipakai terhadap para pemuda yang sudah lebih berkembang daripada anak-anak sekolah dasar. Kehadiran konselor langsung di hadapan para siswa disertai dengan informasi yang tepat dan mantap tentang fungsi konselor dan pelayanan bimbingan dan konseling pada umumnya akan sangat membantu peningkatan pemanfaatan layanan konseling oleh para siswa.3



  1. Bimbingan konseling di sekolah menengah pertama
Perpindahan dari sekolah dasar ke satuan lanjutan ini merupakan langkah yang cukup berarti dalam kehidupan anak, baik karena tambahan tuntutan belajar siswa lebih berat, maupun karena siswa akan mengalami banyak perubahan dalam diri sendiri selama tahun-tahun ini. Secara berangsur-angsur siswa akan berusaha melepaskan diri dari pengawasan orang tuanya, dan akan dihadapkan pada rangkaian perubahan jasmani maupun rohani pada dirinya. maka dari itu dibutuhkan bimbingan yang lebih lagi pada siswa dibandingkan pada saat di sekolah dasar.4
Terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan program bimbingan konseling di sekolah menengah pertama, yaitu:
  1. Tujuan penyelenggaraan
Sekolah memberikan bekal kemampuan dasar yang merupakan perluasan serta peningkatan pengetahuan da keterampilan yang din peroleh di sekolah dasar yang bermanfaat bagi siswa untuk mengembangkan kehidupan sebagai pribadi, anggota masyarakat, dan warga negara sesuai dengan tingkat perkembangannya, serta mempersiapkan mereka mengikuti pendidikan ke jenjang selanjutnya.
  1. Kebutuhan siswa selama rentang umur 12-15 tahun
Kebutuhan utama pada masa ini adalah kebutuhan psikologis, seperti mendapat kasih sayang, menerima pengakuan terhadap dorongan untuk semakin mandiri, memperoleh prestasi di berbagai bidang yang dihargai oleh teman sebaya, merasa aman dengan perubahan dengan kelas mainnya. Tantangan pokok pada masa ini adalah menghadapi diri sendiri bila sudah mulai memasuki fase pueral (masa pubertas), yaitu mengalami segala gejala kematangan seksual yang biasanya sering disertai dengan aneka gejala sekunder seperti berkurangnya semangat untuk bekerja keras, kegelisahan (galau), kepekaan perasaan, kurang percaya diri, dan penantangan terhadap kewibawaan orang dewasa.
  1. Pola dan Karakteristik lembaga sekolah
Untuk lembaga sekolah yang terletak di daerah terpencil dengan jumlah kelas yang tidak terlalu besar, pola dasar yang dapat dipegang ialah pola generalis. Ini berarti bahwa banyak kegiatan bimbingan dapat dipegang oleh guru-guru bidang studi dan wali kelas, dengan mendapat asistensi dari satu atau dua guru konselor. Untuk lembaga sekolah yang terletak dilingkungan kota dengan segala problematikanya dan godaannya, apalagi dengan jumlah kelas yang besar, semakin dituntut memegang pada suatu pola dasar yang mengarah pada pola spesialis, tanpa mengabaikan sumbangan dari guru-guru bidang studi dan wali kelas.
  1. Bimbingan yang menyeluruh
Di sekolah menengah pertama seluruh komponen bimbingan yang termasuk layanan-layanan bimbingan semuanya harus mendapat perhatian yang seimbang. Pemberian informasi meliputi, perkenalan yang lebih luas dengan dunia pekerjaan, perkenalan berbagai bentuk pendidikan atas (sekolah umum atau kejuruan).
  1. Bentuk bimbingan yang diberikan
Bentuk bimbingan yang terutama digunakan ialah bimbingan kelompok. Bimbingan kelompok merupakan layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas topik tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok.5
bimbingan individual merupakan lanjutan dari bimbingan kelompok dan direalisasi melalui wawancara konseling. Sifat bimbingan yang diutamakan ialah preservatif dan preventif. Preservatif merupakan usaha untuk menjaga keadaan yang telah baik agar tetap baik, jangan sampai keadaan yang baik berubah menjadi keadaan yang tidak baik.6 yang bertujuan menjaga jangan sampai anak mengalami kesulitan, menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan.7 Sehingga siswa dapat menyesuaikannya dengan perubahan-perubahan dalam dirinya sendiri dan meletakkan dasar dari perkembangan diri selanjutnya.
Sifat korektif8 akan muncul dalam kasus-kasus penyimpangan siswa, yang pada umumnya berakar dalam situasi keluarga yang kurang menentukan, dan dalam situasi kehidupan masyarakat setempat yang menimbulkan banyak godaan, seperti pengguna narkotika, film dan buku porno, mengendarai motor tanpa SIM, beraneka kenakalan serius yang lain.9
  1. Peranan tenaga pendidik
Bimbingan konseling disesuaikan pada siapa yang memegang peranan kunci, tergantung pada pola dasar yang dipegang. Bila mana dipegang pola generalis, para guru bidang studi dan para wali kelas dan peranan kunci, dengan mendapat bantuan dari satu atau dua guru konselor, khususnya dalam rangka layanan pengumpulan data dan konseling. Guru –guru bidang studi dapat menyisipkan banyak materi informasi dalam pengajaran, misalnya tentang cara belajar yang tepat, tentang sekolah lanjutan, dan tentang dunia kerja.
Bila dipegang oleh spesialis, konselor sekolah dan beberapa guru konselor memegang beberapa peranan kunci, dengan mendapat bantuan dari guru bidang studi dan wali kelas. Konselor sekolah memegang organisasi program bimbingan dengan mengadakan pembagian tugas diantara semua tenaga, misalnya para guru.
  1. Bimbingan konseling di sekolah menengah atas
Memasuki sekolah pada jenjang pendidikan ini tidak membawa perubahan drastis dalam rutinitas sekolah bagi siswa, karena dia sudah biasa dengan pergantian bidang studi dan tenaga pengajar dalam jadwal pelajaran. Namun, rentang umur antara 16-19 tahun yang meliputi sebagian besar dari masa remaja, merupakan masa yang sangat berarti bagi perkembangan kepribadian seseorang. Oleh karena itu, pelayanan bimbingan harus lebih intensif dan lebih lengkap, dibanding dengan pelayanan di satuan pendidikan di bawahnya.10
Terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan program bimbingan di sekolah menengah atas, diantaranya adalah:
  1. Tujuan penyelenggaraan
Pendidikan menengah berkenaan dengan tujuan institusional ditetapkan bahwa pendidikan menengah bertujuan meningkatkan pengetahuan siswa untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dan untuk mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian. Meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial.
  1. Kebutuhan siswa selama rentang umur 16-19 tahun
Kebutuhan utama pada masa ini bersifat psikologis, seperti mendapat perhatian tanpa pamrih negatif apapun, mendapat pengakuan terhadap keunikan pikiran dan perasan mereka, menerima kebebasan yang wajar dalam mengatur kehidupannya sendiri tanpa dilepaskan sama sekali dari perlindungan keluarga. Hal-hal yang perlu dikembangkan dalam masa ini adalah rasa tanggung jawab, persiapan diri untuk memasuki corak kehidupan orang dewasa, memantapkan diri dalam memainkan peranan sebagai pria dan wanita, perencanaan masa depan sesuai dengan bidang studi dan pekerjaan yang sesuai dengan nilai-nilai kehidupan yang dianut dan keadaan nyata dalam masyarakat.
  1. Bentuk bimbingan
Bimbingan kelompok maupun individual diterapkan secara seimbang. Agar pelayanan sampai pada semua siswa, sebagian besar kegiatan dilaksanakan dalam bentuk bimbingan kelompok. Namun, jika siswa remaja sangat peka dalam hal-hal yang dianggap pribadi maka kesempatan untuk konseling sewaktu-waktu harus tersedia.11

  1. Macam-macam bimbingan konseling di sekolah menengah
  1. Bimbingan pribadi siswa
  1. Pemantapan sikap dan kebiasaan serta pengembangan wawasan dalam beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Pemantapan pemahaman tentang kekuatan diri dan pengembangannya untuk kegiatan yang kreatif dan produktif.
  3. Pemantapan pemahaman tentang kelemahan diri dan usaha-usaha penanggulangannya. 12
  4. Pemantapan kemampuan dalam mengambil keputusan, dan kemampuan mengarahkan diri sesuai dengan keputusan yang telah diambilnya.
  1. Bimbingan sosial siswa
  1. Pemantapan kemampuan berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan secara efektif.
  2. pemantapan kecerdasan emosi dalam hubungan yang dinamis, harmonis, dan produktif dengan teman sebaya baik dilingkungan sekolah maupun dilingkungan masyarakat.
  3. Pemantapan pemahaman tentang peraturan, kondisi sekolah dan upaya pelaksanaannya secara dinamis serta bertanggungjawab.

  1. Bimbingan belajar siswa
  1. Pemantapan sikap dan kebiasaan, serta keterampilan belajar yang efektif, efisien, dan produktif, dengan sumber yang lebih bervariasi.
  2. Pemahaman dan pemanfaatan kondisi fisik, sosial, dan budaya yang ada di sekolah, lingkungan sekitar dan masyarakat secara luas.
  3. Orientasi belajar untuk pendidikan tambahan dan jenjang selanjutnya.
  1. Bimbingan karir siswa
  1. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan yang hendak dikembangkan.
  2. Pemantapan orientasi dan informasi karir pada umumnya, dan khususnya karir yang hendak dikembangkan.
  3. Pemantapan pengembangan diri berdasarkan IQ, EQ, dan SQ untuk pengambilan keputusan pemilihan karir sesuai dengan potensi yang dimilikinya.13

  1. KESIMPULAN
Bimbingan konseling di sekolah menengah memiliki pola, teknik dan pendekatan yang berbeda dengan bimbingan konseling yang ada di sekolah dasar. Di sekolah menengah bimbingan konseling dapat menjadi pendamping dan penyeimbang bagi para siswa.
Di sekolah menengah pertama program bimbingan konseling mempunyai tujuan penyelenggaraan yang menekankan pada pemberian bekal dasar pada siswa untuk mempersiapkan ke jenjang selanjutnya, pendekatan dan teknik bimbingan disesuaikan dengan karakteristik siswa dan karakteristik lembaga sekolah, dalam pembimbingan ditekankan pada bimbingan kelompok dan bimbingan individu sebagai tidak lanjutnya.
Bimbingan konseling di sekolah menengah atas hampir sama dengan bimbingan konseling di sekolah menengah pertama, hanya saja di sekolah menengah atas bimbingan lebih diintensifkan pada siswa. Hal ini didasarkan pada perkembangan siswa menuju kedewasaan, yang berarti permasalahan yang dihadapi juga semakin kompleks.







DAFTAR PUSTAKA

Hasyim, Farid dan Mulyono, Bimbingan & Konseling Religius, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010.
Priyatno dan Ermananti, Dasar-dasar Bimbingan dan konseling, Jakarta: PT RINEKA CIPTA, 1999.
Walgito, Bimo, Bimbingan dan Konseling (studi & Karir), Yogyakarta: CV Andi Offset, 2007.
Winkel, W. S. & M. M. Sri Hastuti, Bimbingan Dan Konseling Di Institusi Pendidikan, (Yogyakarta: Media Abadi, 2007.
http://psikonseling.blogspot.com/2009/12/layanan-bimbingan-konseling.html, (Jum’at, 04/05/2012, 14:19)
http://delsajoesafira.blogspot.com/2010/05/bimbingan-konseling-di-sekolah-menengah.html, (Jum’at, 04/05/2012, 14:20)


1 Farid Hasyim dan Mulyono, Bimbingan & Konseling Religius, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), hlm. 87-88

2 http://delsajoesafira.blogspot.com/2010/05/bimbingan-konseling-di-sekolah-menengah.html, (Jum’at, 04/05/2012, 14:20)

3 Priyatno dan Ermananti, Dasar-dasar Bimbingan dan konseling, (jakarta: PT RINEKA CIPTA, 1999), hlm. 305.

4 W. S. Winkel & M. M. Sri Hastuti, Bimbingan Dan Konseling Di Institusi Pendidikan, (Yogyakarta: Media Abadi, 2007), hlm.141.

5 http://psikonseling.blogspot.com/2009/12/layanan-bimbingan-konseling.html, (Jum’at, 04/05/2012, 14:19)

6 Bimo Walgito, Bimbingan dan Konseling (studi & Karir), (Yogyakarta: CV Andi Offset, 2007), hlm. 39

7 Bimo Walgito, Bimbingan dan Konseling (studi & Karir), hlm.38.

8 Sifat Korektif ialah mengadakan Konseling kepada anak-anak yang mengalami kesulitan yang tidak dapat dipecahkan sendiri dan yang membutuhkan pertolongan dari pihak lain. Lihat Bimo Walgito, Bimbingan dan Konseling (studi & Karir),hlm. 39.

9 W.S. Winkel & M.M. Sri Hastuti, Bimbingan Dan Konseling Di Institusi Pendidikan,hlm. 142-145.

10 W. S. Winkel & M. M. Sri Hastuti, Bimbingan Dan Konseling Di Institusi Pendidikan, hlm. 146.

11 W. S. Winkel & M. M. Sri Hastuti, Bimbingan Dan Konseling Di Institusi Pendidikan, hlm. 148&150.

12 Farid Hasyim dan Mulyono, Bimbingan & Konseling Religius, hlm. 93.

13 Farid Hasyim dan Mulyono, Bimbingan & Konseling Religius, hlm. 94.

0 komentar:

Poskan Komentar