Senin, 16 April 2012

Konsep dan Kebijakan PAUD

KONSEP DAN KEBIJAKAN PAUD

I.       PENDAHULUAN
Dewasa ini, pendidikan anak usia dini (PAUD) telah menjadi bagian penting dari sistem pendidikan di Indonesia. Pendidik PAUD memerankan tugas yang sangat mulia, bagaimana pendidikan dalam usia emas dapat berjalan dengan optimal.
PAUD merupakan suatu tahap pendidikan yang tidak dapat diabaikan, karena ikut menentukan perkembangan dan keberhasilan anak. Dengan adanya PAUD diharapkan anak akan tumbuh dan berkembang dengan identitas diri yang kuat, dalam arti dirinya sebaik dan setara dengan orang lain, bahkan lebih.
Berbagai hasil penelitian menyimpulkan bahwa pendidikan yang diperoleh pada usia emas sangat mempengaruhi perkembangan dan prestasi anak ketika dewasa. Bahkan masa depan bangsa dapat dikatakan bergantung pada kualitas pendidikan anak di usia emas ini.[1]

II.    RUMUSAN MASALAH
A.    Apa Pengertian dan konsep PAUD?
B.     Apa Saja Dasar-dasar Penyelenggaraan PAUD?
C.     Apa Isi Permendiknas No 58 Tahun 2009 ?
D.    Apa Saja Teori Bermain Itu?
E.     Apakah Manfaat Bermain Bagi Anak Usia Dini?
F.      Apakah Manfaat PAUD?
G.    Bagaimana Otak Pada Anak Usia Dini?
H.    Bagaimana Belajar Bagi Anak Usia Dini?



III. PEMBAHASAN
A.    Pengertian dan Macam-macam konsep PAUD
1.      Pengertian PAUD
Undang-undang Nomor 20 Tahun  2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional  Pasal 1 ayat 14 menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya  pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan  pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Sedangkan pada pasal 28 tentang pendidikan anak usia dini dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan atau informal.
Jadi PAUD adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang di tujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang di lakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang di selenggarakan pada jalur formal, non formal, dan informal.
2.      Konsep PAUD
Pada dasarnya pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaran pendidikan yang menitik beratkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi, motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spritual), sisi emosional (sikap, perilaku, dan agama), bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang di lalui oleh anak usia dini. [2]
Pendidikan Anak Usia Dini merupakan pendidikan yang melibatkan seluruh aspek pada anak, mencakup kepedulian akan perkembangan fisik, kognitif, dan social anak. Pembelajaran diorganisasikan sesuai dengan minat-minat dan gaya belajar anak.
Terdapat dua tujuan di selenggarakannya pendidikan anak usia dini, yaitu:
a.       Tujuan utamanya  adalah  membentuk  anak yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya, sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta megaruhi kehidupan di masa dewasa.
b.      Membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar akademik di sekolah.[3]

B.     Dasar-dasar Penyelenggaraan Pendidikan PAUD
1.      Landasan Yuridis
a.       UU No 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan Nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia indonesia seutuhnya yaitu manusi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang matang dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
b.      Pasal 28B ayat 2 dinyatakan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, sedangkan pada pasal 28C ayat 2 dinyatakan bahwa setiap anak berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari iptek , seni, dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.
c.       UU RI Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional Bab 1, pasal 1, butir 14 dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan, pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Sedangkan pada pasal 28 tentang pendidikan anak usia dini dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, non formal, dan atau informal. Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal : TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan non fofmal: KB,TPA, atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan usia dini jalur informal: pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.
d.      UU RI Nomor 23Tahun 2002 pasal 9 ayat 1 tentang perlindungan anak dinyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pendidikan dalam rangka pengembangan pribadinyadan tingkat kecerdasan nya sesuai dengan bakat dan minatnya. [4]
2.      Landasan Filosofis dan Religi
Pendidikan dasar anaka usia dini, pada dasarnya harus berdasarkan pada nilai-nilai filosofis dan religi yang dipegang oleh lingkungan yang berada disekitar anak dan agama yang dianutnya. Didalam islam dikatakan bahwa “seorang anak terlahir dalam keadaan fitrah, orang tuanya yang membuat anaknya menjadi yahudi, nasrani, yahudi, dan majusi,” maka bagainana kita bisa menjaga serta meningkatkan potensi kebaikan tersebut, hal itu tentuu harus dilakukan sejak usia dini.
Pendidikan agama menekankan pada pemahaman tentang agama serta bagaimana agama diamalkan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Penanaman nilai-nilai agama tersebut disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak serta keunikan yang dimiliki oleh setiap anak. Islam mengajarkan nilai-nilai keislaman dengan cara pembiasaan ibadah, contohnya puasa, shalat lima waktu, dan lain-lain.
3.      Landasan Keilmuan dan Empiris
Konsep keilmuan PAUD bersifat isomorfis, artnya kerangka keilmuan PAUD dibangun dari interdisiplin ilmu, yang merupakan gabungan dari beberapa disiplin ilmu, diantaranya psikologi, fisiologi, sosiologi, ilmu pendidikan anak, antropologi, humaniora, kesehatan, dan gizi, serta neurosains (ilmu tentang perkembangan otak anak manusia).
Dari segi empiris sangat penting, banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa PAUD antara lain yang menjelaskan bahwa pada waktu manusia lahir, kelengkapan organisasi otak memuat 100-200 milyar sel otak yang siap dikembangkan serta diaktualisasikan mencapai tingkat perkembangan potensi tinggi, tetapi hasil riset membuktikan bahwa hanya lima persen dari potensi otak itu yang terpakai. Hal itu disebabkan kurangnya stimulasi yang mengoptimalkan fungsi otak. [5]

C.     Permendiknas No 58 Tahun 2009
Standar PAUD merupakan bagian integral dari Standar Nasional Pendidikan sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang dirumuskan dengan mempertimbangkan karakteristik penyelenggaraan PAUD. Standar PAUD terdiri atas empat kelompok, yaitu:  Standar tingkat pencapaian perkembangan,  Standar pendidik dan tenaga kependidikan,  Standar isi, proses, dan penilaian dan Standar sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan.
1.      Standar tingkat pencapaian perkembangan
Standar ini berisi kaidah pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini sejak lahir sampai dengan usia enam tahun. Tingkat perkembangan yang dicapai merupakan aktualisasi potensi perkembangan yang diharapkan dapat dicapai anak pada setiap tahap perkembangannya, bukan merupakan suatu tingkat pencapaian akademik.
2.      Standar pendidik dan tenaga kependidikan
Memuat kualifikasi dan kompetensi yang disyaratkan. Pendidik anak usia dini adalah profesional yang bertugas, merencanakan,  melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, pengasuhan dan perlindungan anak didik. Pendidik bertugas di berbagai jenis layanan baik pada jalur pendidikan formal maupun nonformal. Di jalur formal terdiri dari guru dan guru pendamping, sedangkan di jalur non formal pendidik PAUD terdiri dari guru, guru pendamping, dan pengasuh.
Tenaga Kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, dan pengawasan. Pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada lembaga PAUD. Di jalur formal terdiri dari Pengawas, Kepala TK/RA, Tenaga Administrasi, dan Petugas Kebersihan. Dan untuk jalur PAUD Nonformal terdiri dari Penilik, Pengelola, Administrasi, dan Petugas Kebersihan.[6]
3.      Standar isi, proses, dan penilaian
Meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian program yang dilaksanakan secara terpadu sesuai dengan kebutuhan anak dan kondisi setempat. Struktur program meliputi, bidang pengembangan pembentukan perilaku, bidang pengembangan kemampuan dasar, melalui kegiatan bermain dan pembiasaan.
Bentuk Kegiatan Layanan, Alokasi waktu, dan Kalender Pendidikan. Serta rombongan belajar yang meliputi:
1)      Kelompok usia 0 - <1 tahun 1 : 4 anak
2)      Kelompok usia 1 - <2 tahun 1 : 6 anak
3)      Kelompok usia 2 - <3 tahun 1 : 8 anak
4)      Kelompok usia 3 - <4 tahun 1 : 10 anak
5)      Kelompok usia 4 - <5 tahun 1 : 12 anak
6)      Kelompok usia 5 - ≤6 tahun 1 : 15 anak.

4.      Standar sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan.
Mengatur persyaratan fasilitas, managemen, dan pembiayaan agar dapat menyelenggarakan PAUD dengan baik.

D.    Bermain Bagi Anak
Dunia anak adalah dunia bermain, yang merupakan fenomena sangat menarik bagi para pendidik, psikolog, dan ahli filsafat sejak zaman dahulu. Mereka tertantang untuk lebih memahami arti bermain dikaitkan dengan tingkah laku anak. Walaupun konsep bermain telah digunakan sejak bertahun-tahun, tetapi lebih sulit untuk mendefinisikannya.[7]
Permainan merupakan prasyarat untuk keahlian anak selanjutnya, suatu praktek untuk kemudian hari. Permainan penting sekali untuk perkembangan kemampuan kecerdasan. Dalam permainan, anak-anak dapat bereksperimen tanpa gangguan, dengan demikian anak akan mampu membangun kemampuan yang kompleks. Contohnya bermain dengan krayon dan kertas, menggambar, memanipulasi balok-balok kayu, mekanika, dan lain-lain. Bermain dengan benda  dapat memahukan kemampuan untuk membangkitkan cara-cara baru menggunakan  benda-benda tersebut.
Salah satu hipotesis yang terkenal dalam psikologi perkembangan menyebutkan bahwa bermain dapat membantu perkembangan kecerdasan. Terbukti dalam suatu penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak mempunyai mainan dan sedikit kesempatan untuk bermain dengan anak lain akan tertinggal secara kognitifdari teman seusianya yang memiliki cukup kesempatan untuk bermain.[8]
Bermain mempunyai banyak manfaat dalam mengembangkan keterampilan dan kecerdasan anak agar lebih siap menuju pendidikan selanjutnya. Kecerdasan anak tidak hanya ditentukan  oleh skor tunggal yang diungkap melalui tes intelegensi saja, akan tetapi anak juga memiliki kecerdasan jamak yang berwujud berbagai keterampilan dan kemampuan.
Contohnya ketika menolong teman, tidak saling berebut dan bertengkar, kesediaan berbagi, melatih disiplin, berani mengambil keputusan, dan bertanggung jawab. Tidak hanya itu, bermain juga dapat menjadi media untuk mengembangkan kemampuan berimajinasi dan bereksplorasi.[9]
Bermain merupakan cara atau jalan bagi anak untuk mengungkapkan hasil pemikiran, perasaan serta cara mereka menjelajahi lingkungannya. Bermain juga membantu anak dalam menjalin hubungan sosial. Dengan demikian anak membutuhkan waktu yang cukup untuk bermain.

E.     Teori Bermain Anak Usia Dini
Bermain dan anak merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Aktivitas bermain dilakukan anak dan aktivitas anak selalu menunjukkan kegiatan bermain. Bermain dan anak sangat erat kaitannya. Oleh karena itu, salah satu prinsip pembelajaran di pendidikan anak usia dini adalah bermain dan belajar.
Pada usia anak–anak fungsi bermain berpengaruh besar sekali bagi perkembangan anak. Jika pada orang dewasa sebagian besar perbuatannya diarahkan pada pencapaian tujuan dan prestasi dalam bentuk kegiatan kerja, maka kegiatan anaka sebagian besar dalam bentuk bermain.
Dengan bermain anak memenuhi kepuasan fisik, emosi, sosial, dan perkembangan mental, sehingga anak dapat mengekspresikan perasaannya baik itu perasaan kekuatan, kesiapan fantasi maupun kreativitasnya.
Dalam pembahasan berikut diketengahkan beberapa teori yang relevan dengan kajian bermain. Berikut teori-teori tentang permainan dari para pakar:
1.      Teori Rekreasi yang dikembangkan oleh Schaller dan Nazaruz, dua  orang sarjana Jerman diantara tahun 1841 dan 1884. Mereka menyatakan permainan itu sebagai kesibukan rekreatif, sebagai lawan dari kerja dan keseriusan hidup. Orang dewasa mencari kegiatan bermain-main apabila ia merasa capai sesudah berkerja atau sesudah melakukan tugas-tugas tertentu. Dengan begitu permainan tadi bisa “ me-rekriir ” kembali kesegaran tubuh yang tengah lelah.
2.      Teori Pemunggahan (Ontlading Stheorie) menurut sarjana Inggris Herbert Spencer, permainan disebabkan oleh mengalir keluarnya enegi, yaitu tenaga yang belum dipakai dan menumpuk pada diri anak itu menuntut untuk dimanfaatkan atau dipekerjakan. Sehubungan dengan itu energi tersebut “mencair” dan “menunggah” dalam bentuk permainan. Teori ini disebut juga sebagai teori “kelebihan tenaga” (krachtoverschot-theorie). Maka permainan merupakan katup pengaman bagi energi vital yang berlebih-lebihan.
3.      Teori atavistis sarjana Amerika Stanley Hall, menyatakan bahwa selama perkembangannya, anak akan mengalami semua fase kemanusiaan. Permainan itu merupakan penampilan dari semua factor hereditas (waris, sifat keturunan), yaitu segala pengalaman jenis manusia sepanjang sejarah akan diwariskan kepada anak keturunannya, mulai dari pengalaman hidup dalam gua-gua, berburu, menangkap ikan, berperang, bertani, berhuma, membangun rumah sampai dengan menciptakan kebudayaan dan seterusnya. Semua bentuk ini dihayati oleh anak dalam bentuk permainan-permainannya.
4.      Teori Biologis oleh Karl Groos, sarjana Jerman (dikemudian hari Maria Montesori juga bergabung pada paham ini) menyatakan bahwa permainan itu mempunyai tugas biologis, yaitu melatih macam-macam fungsi jasmani dan rohani. Waktu-waktu bermain merupakan kesempatan baik bagi anak untuk melakukan penyesuaian diri terhadap lingkunagn hidup itu sendiri.
5.      Teori Psikologis Dalam, menurut teori ini, permainan merupakan penampilan dorongan- dorongan yang tidak disadari pada anak-anak dan orang dewasa. Ada dua dorongan yang paling penting menurut  Alder ialah : dorongan berkuasa, dan menurut Freud ialah dorongan seksual atau libidi sexualis. Alder berpendapat bahwa, permaina memberikan pemuasann atau kompensasi terhadap perasaan- perasaan diri yang fiktif. Dalam permainan juga bisa disalurkan perasaan-perasaan yang lemah dan perasaan- perasaan rendah hati.
6.      Teori fenomenologis oleh professor Kohnstamm, seorang sarjana Belanda yang mengembangkan teori fenomenologis dalam pedagogic teoritis,nya menyatakan, bahawa permaina merupakan satu, fenomena/gejala yang nyata. Yang mengandung unsure suasana permainan. Dorongan bermain merupakan dorongan untuk menghayati suasana bermain itu, yakni tidak khusus bertujuan untuk mencapai prestasi-prestasi tertentu, akan tetapi anak bermain untuk permainan itu sendiri. Jadi, tujuan permainan adalah permaianan itu sendiri.[10]

F.      Manfaat PAUD
Manfaat PAUD bagi anak pra sekolah adalah mereka yang belum berumur 6 tahun bisa bersekolah melalui PAUD ini, karena didalam PAUD itu sendiri bukan hanya pendidikan formal yang diajarkan melainkan pendidikan non formal.
Pada dasarnya mengarahkan pendidikan kepada anak sebelum umur 6 tahun itu lebih baik, karena anak bisa merasakan kegiatan bersekolah meskipun belum mencapai umur. Mereka bisa bermain dengan teman sebayanya dan pendidik pun akan mengarahkan ke arah permainan yang bermanfaat bagi si anak. Jadi, manfaat PAUD bagi anak pra sekolah, mereka bisa merasakan sekolah sebelum memasuki sekolah yang sebenarnya dan mempunyai bekal pendidikan yang telah di ajarkan di PAUD.[11]

G.    Otak Pada Anak Usia Dini
Otak dapat dikatakan sebagai pusat perkembangan dan fungsi kemanusiaan. Otak terdiri atas seratus miliar sel saraf (Neuron), dan setiap sel memiliki sekitar tiga ribu koneksi dengan sel-sel saraf yang lainnya. Neuron ini terdiri dari inti sel (Nucleus) dan sel body yang berfungsi sebagai penyalur aktivitas dari sel saraf yang satu ke sel yang lainnya. Perkembangan otak manusia yang paling pesat terjadi pada masa prenatal, yaitu ketika dalam kandungan dan beberapa bulan setelah kelahiran.[12]
Struktur otak manusia terdiri atas tiga bagian, yaitu:
1.      Otak Besar (Cerebrum)
Otak besar sering juga disebut sebagai intelligence quotion. Berfungsi sebagai sensor yaitu menerima rangsangan, yang mengkoordinasi fungsi penglihatan, pendengaran, perasa, pencium, peraba. Cara kerja dari otak besar yaitu alat-alat sensor menerima rangsang yang diteruskan melalui jaringan saraf yang mengubahnya menjadi energi elektromagnetik ke otak kecil. Cerebrum terbagi menjadi dua belahan yang dibatasi sebuah celah yang dalam. Walaupun terbagi dua, kedua belahan cerebral bisa bekomunikasi antara satu dengan yang lainnya melalui sebuah serabut saraf yang tebal terletak pada dasar celah. Kedua belahan ini bisa disebut otak kiri dan otak kanan. Otak kiri berhubungan dengan kemampuan berlogika, sedangkan otak kanan kemampuan berimajinasi.
2.      Otak Tengah (Hypothalamus)
Otak tengah berfungsi sebagai pusat rasa dan pengatur suhu tubuh. Seluruh rasa seperti senang, benci, malu, kecewa, dan sebagainnya di koordinasikan oleh bagian otak ini. Informasi dari otak besar secara bolak-balik masuk otak tengah, otak kecil dan kembali ke otak besar. ketika suatu rangsangan lebih di proses oleh bagian ini maka info tersebut akan di respon ulang sebagai luapan rasa, sebagai contoh ketika seorang anak baru saja menyadari bahwa ia ditinggal oleh orang tuannya pergi kerja kemudian ia menanggis keras. Rangsang dari pengelihatan bahwa di sekelilingnya tidak ada figur yang selalu melindunginya yaitu orang tuannya di teruskan di otak tengah dan otak kecil, jika ia belum mempunyai otak kecil yang berkembang maksimal untuk memberikan pertimbangan respon balik di dominasi oleh otak tengah berupa rasa sedih yang di ekspresikan berupa menangis keras. fungsi mengontrol emosi inilah yang di sebut sebagai emosional quation.[13]
3.      Otak Kecil (Cerebellum)
Otak kecil sering di sebut juga spiritual quation berfungsi sebagai pusat kesadaran. Disinilah informasi dari otak besar dan otak tengah di analisa untuk kemudian diputuskan respon balik rangsang tersebut. Analisa di dasarkan pada memori sekumpulan nilai, aturan, dan bahan pertimabangan lain yang tersimpan dalam otak kecil. Semakin banyak menyimpan arsip ingatan seoarang anak akan semakin mampu mempunyai solusi terhadap suatu rangsang. Termasuk fungsi bagian otak ini ialah sebagai pusat keseimbangan dan otomatisasi. Sebuah pengetahuan yang sudah berproses secara matang akan menjadi otomatisasi melalui kerja otak kecil ini.
Sebagai contoh seoarang anak yang baru belajar maengendarai sepeda akan sering mengalami jatuh dari sepeda karena rangsang masih sebatas di terima oleh otak besar untuk di temukan titik keseimbangannya. Ketika titik keseimbangannya telah di temukan maka kali ini akan di kemas menjadi pengetahuan dan di arsipkan dalam otak kecil untuk kemudian bisa di reproduksi sewaktu-waktu saat di butuhkan. Inilah yang di sebut proses otomatisasi, maka anak bisa main sepeda tanpa jatuh sambil memikirkan suatu hal yang lain karena keseimbangan naik sepeda sudah menjadi otomatisasi.
Titik God spot atau titik ketuhanan terletak bagian otak ini. Dengan asumsi setiap manusia sebagai mahluk atau Ciptaan Tuhan mempunyai sifat atau ilmu bawaan Tuhan yang masih berupa bakat. Bakat ini bisa diolah menjadi skill sehingga manusia bisa memproyeksikan nilai-nilai Tuhan seperti pengasih, penyayang dan lain sebagainnya.[14]

H.    Belajar Bagi Anak Usia Dini
Skinner  memberikan definisi belajar “Learning is a process progressive behavior adaptation”. Dari definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa belajar itu merupakan suatu proses adaptasi perilaku yang bersifat progresif. Ini berarti bahwa belajar akan mengarah pada keadaan yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Disamping itu belajar juga memebutuhkan proses yang berarti belajar membutuhkan waktu untuk mencapai suatu hasil.[15]
Setiap anak memiliki cara tersendiri dalam belajar, dengan cara tersendiri tersebut mereka bisa lebih mudah memahami apa yang dipelajari. Ada beberapa gaya belajar pada anak, yaitu visual, auditorik, dan taktil atau kinestetik.
1.      Visual
Anak yang mempunyai cara belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka pengajar atau gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Anak dengan tipe ini adalah menyukai deskripsi, sehingga seringkali ditengah-tengah membaca berhenti untuk membayangkan apa yang dibacanya. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
a.       Mengeja, mengenali huruf melalui rangkaian kata yang tertulis.
b.      Menulis, hasil tulisan cenderung baik, terbaca jekas dan rapi.
c.       Ingatan, terkadang dapat mengingat muka tetapi lupa nama, selalu menulis apa saja.
d.      Imajinasi, memiliki imajinasi kuat dengan melihat detil dari gambar yang ada.
e.       Distraktibilitas, lebih mudah terpecah perhatiannya jika ada gambar.
f.       Pemecahan, menulis semua hal yang dipikirkan dalam suatu daftar.
g.      Respon terhadap periode kosong aktivitas, jalan-jalan melihat sesuatu yang dapat dilihat.
h.      Respon untuk situasi baru, melihat sekeliling dengan mengamati struktur.
i.        Emosi, mudah menangis dan marah, tampil ekspresif
j.        Komunikasi, tenang tak banyak bicara panjang, tak sabaran mendengar, lebih banyak mengamati.
k.      Penampilan rapi, paduan warna senada, dan suka urutan.
l.        Respon terhadap seni, apresiasi terhadap seni apa saja yang dilihatnya secara mendalam dengan detil.
2.      Auditori
Anak yang mempunyai cara belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. anak dengan tipe ini  adalah menikmati percakapan dan tidak mempedulikan ilustrasi yang ada. Ciri-cirinya adalah:
a.       Mengeja menggunakan pendekatan bunyi kata.
b.      Menulis, hasil tulisan cenderung tipis, seadanya.
c.       Ingatan, seringkali meng ingat nama tetapi lupa muka, ingatan melaui pengulangan.
d.      Imajinasi , tak mengutamakan detil, lebih berpikir mengandalkan pendengaran.
e.       Distraktibilitas, mudah terpecah perhatiannya dengan suara.
f.       Pemecahan masalah melalui lisan.
g.      Respons terhadap periode kosong aktivitas, ngobrol atau bicara sendiri.
h.      Respon untuk situasi baru, Bicara tentang pro dan kontra.
i.        Emosi, berteriak kalau bahagia, mudah meledak tapi cepat reda, emosi tergambar jelas melalui perubahan besarnya nada suara, dan tinggi rendahnya nada.[16]
j.        Komunikasi, Senang mendengar dan cenderung repetitif dalam menjelaskan.
k.      Penampilan, tidak memperhatikan harmonisasi paduan warna dalam penampilan.
l.        Respon terhadap seni, Lebih memilih musik. Kurang tertarik seni visual, namun siap berdiskusi sebagai karya secara keseluruhan, tidak berbicara secara detil pada komponen yang dilihatnya.
3.      Taktil atau Kinestetik
Anak yang mempunyai cara belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktivitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Anak dengan tipe belajar seperti ini lebih memiliki karakteristik yang sejak awal sudah menunjukkan adanya aksi.
a.       Mengeja, Sulit mengeja sehingga cenderung menulis kata untuk memastikannya.
b.      Menulis, hasil tulisan “nembus” dan ada tekanan kuat pada alat tulis sehingga menjadi sangat jelas terbaca.
c.       Ingatan, Lebih ingat apa yang sudah dilakukan, daripada apa yang baru saja dilihat atau dikatakan.
d.      Imajinasi, imajinasi tak terlalu penting, lebih mengutamakan tindakan atau kegiatan.
e.       Distraktibilitas, perhatian terpecah melalui pendengaran.
f.       Pemecahan masalah melalui kegiatan fisik dan aktivitas.
g.      Respons terhadap periode kosong aktivitas, mencari kegiatan fisik bergerak.
h.      Respon untuk situasi baru, mencoba segala sesuatu dengan meraba, merasakan dan memanipulasi.
i.        Emosi, melompat-lompat kalau gembira, memeluk, menepuk, dan gerakan tubuh keseluruhan sebagai luapan emosi.[17]
j.        Komunikasi, menggunakan gerakan kalau bicara, kurang mampu mendengar dengan baik.
k.      Penampilan  rapi, namun cepat berantakan karena aktivitas yang dilakukan.
l.        Respon terhadap seni, respon terhadap musik melalui gerakan. Lebih memilih patung, melukis yang melibatkan aktivitas gerakan.

IV.   KESIMPULAN
Dari sedikit pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa PAUD adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang di tujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang di lakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang di selenggarakan pada jalur formal, non formal, dan informal.
Dalam pelaksanaan PAUD ada beberapa hal yang dapat dijadikan landasannya, yaitu landasan yuridis, Filosofis dan religi, serta landasan keilmuan dan empiris.
Standar PAUD terdiri atas empat kelompok, yaitu:  Standar tingkat pencapaian perkembangan,  Standar pendidik dan tenaga kependidikan,  Standar isi, proses, dan penilaian, serta Standar sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan.
Bermain merupakan cara atau jalan bagi anak untuk mengungkapkan hasil pemikiran, perasaan serta cara mereka menjelajahi lingkungannya. Bermain juga membantu anak dalam menjalin hubungan sosial. Adapun teori-teori  bermain yang dikemukakan oleh beberapa tokoh yaitu Teori Rekreasi yang dikembangkan oleh Schaller dan Nazaruz, Teori Pemunggahan (Ontlading Stheorie) menurut sarjana Inggris Herbert Spencer, Teori Biologis oleh Karl Groos, Teori Psikologis Dalam, dan Teori fenomenologis oleh professor Kohnstamm.
Setiap anak memiliki cara tersendiri dalam belajar, dengan cara tersendiri tersebut mereka bisa lebih mudah memahami apa yang dipelajari. Ada beberapa gaya belajar pada anak, yaitu visual, auditori, dan taktil atau kinestetik.



DAFTAR PUSTAKA

Kartono, Kartini, Psikologi Anak, Bandung : Bandar Maju, 1995.
Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Noorlaila, Iva, Panduan Lengkap Mengajar PAUD, Yogyakarta: Pinus Book Publisher, 2010.
Partini, Pengantar Pendidikan Anak Usia Dini, Yogyakarta: Grafindo Litera Media, 2010.
Santi, Danar, Pendidikan Anak Usia Dini (Antara Teori dan Praktek),  Jakarta: PT Mancanaa Jaya Cermelang, 2009.
Sujiono, Yuliani Nurani, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta: PT Indeks, 2009.
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/tmp/KKN%20BANTUL%20PERMEN%2058.pdf,   (Sabtu, 14/04/2012, 09:02).
http://amaliafirdausia.wordpress.com/2009/12/31/pendidikan-anak-usia-dini-bagi-usia-pra-sekolah/, (Kamis, 12/04/2012, 09:04).


[1]Iva Noorlaila, Panduan Lengkap Mengajar PAUD, (Yogyakarta: Pinus Book Publisher, 2010), hlm. 8.
[2] Danar Santi, Pendidikan Anak Usia Dini (Antara Teori dan Praktek),  (Jakarta: PT Mancanaa Jaya Cermelang, 2009 ), hlm. 6.
[3]Danar Santi, Pendidikan Anak Usia Dini (Antara Teori dan Praktek), hlm. 7.
[4]Yuliani Nurani Sujiono, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, (Jakarta: PT Indeks, 2009), hlm. 8.
[5]Yuliani Nurani Sujiono, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, hlm. 9-10.
[6]http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/tmp/KKN%20BANTUL%20PERMEN%2058.pdf,   (Sabtu, 14/04/2012, 09:02).
[7]Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hlm. 149.
[8] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam, hlm. 151.
[9]Iva Noorlaila, Panduan Lengkap Mengajar PAUD, hlm. 37.
[10]Kartini Kartono, Psikologi Anak, (Bandung : Bandar Maju : 1995), Hlm. 117-121.
[11] http://amaliafirdausia.wordpress.com/2009/12/31/pendidikan-anak-usia-dini-bagi-usia-pra-sekolah/, (Kamis, 12/04/2012, 09:04).
[12]Partini, Pengantar Pendidikan Anak Usia Dini, (Yogyakarta: Grafindo Litera Media, 2010), hlm. 20.
[13]Partini, Pengantar Anak Usia Dini, hlm.21.
[14]Partini, Pengantar Anak Usia Dini, hlm. 22.

0 komentar:

Poskan Komentar